Dinkes Ungkap LSL Faktor Perilaku Berisiko Penularan HIV di Banyuasin
Banyuasin — Maraknya kasus penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kabupaten Banyuasin menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Banyuasin. Melalui Dinas Kesehatan (Dinkes), pemerintah menghimbau seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran, kewaspadaan, serta berperan aktif dalam upaya pencegahan penularan HIV.
Kepala dinas kesehatan kabupaten Banyuasin dr. Indah Daryane M.Kes Melalui Tim P2P (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit) Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuasin menyoroti masih adanya potensi penularan HIV di tengah masyarakat. Ketua Tim Kerja (Katimja) P2P, Sulardi, menyebut bahwa salah satu faktor risiko penularan HIV berkaitan dengan perilaku sosial berisiko.
Menurut Sulardi, perilaku menyimpang secara sosial, termasuk hubungan sesama jenis lelaki dengan lelaki (LSL), menjadi salah satu penyumbang meningkatnya risiko penularan HIV jika tidak dibarengi dengan kesadaran kesehatan dan pencegahan yang memadai.
“Salah satu dampak penyebab penularan HIV itu berasal dari perilaku sosial yang menyimpang, seperti menyukai sesama jenis, lelaki dengan lelaki. Ini menjadi faktor risiko yang perlu mendapat perhatian serius,” ujar Sulardi, Jum’at (30/1/2026).
Ia mengungkapkan, berdasarkan data yang masuk ke Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuasin, pada tahun lalu tercatat sekitar 25 orang masyarakat Banyuasin terdeteksi mengidap HIV. Namun untuk tahun berjalan, pihaknya belum dapat menyampaikan angka pasti.
“Untuk tahun ini kami belum bisa menyampaikan jumlah pastinya, karena saat ini Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuasin masih melakukan pengecekan dan pendataan administrasi terhadap masyarakat yang terindikasi atau terkonfirmasi HIV,” jelasnya.
Meski demikian, Sulardi menegaskan bahwa penanganan HIV tidak hanya berfokus pada pendataan kasus, tetapi juga pada upaya pencegahan, edukasi, dan pengobatan berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya pendekatan kesehatan masyarakat yang humanis dan tidak diskriminatif.
Sementara itu, sejumlah pemerhati kesehatan mengingatkan agar upaya pencegahan HIV tidak dibarengi dengan stigma terhadap kelompok tertentu. HIV, menurut mereka, dapat menular melalui berbagai faktor risiko, seperti penggunaan jarum suntik tidak steril, hubungan seksual tidak aman, serta penularan dari ibu ke anak, sehingga diperlukan edukasi yang komprehensif kepada seluruh lapisan masyarakat.
“Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuasin mengimbau masyarakat untuk tidak takut melakukan pemeriksaan kesehatan, meningkatkan kesadaran akan perilaku hidup sehat, serta aktif mengikuti program pencegahan HIV yang diselenggarakan pemerintah,” tandasnya.
Upaya ini diharapkan mampu menekan angka penularan HIV di Banyuasin sekaligus membangun kesadaran kolektif bahwa penanganan HIV adalah tanggung jawab bersama, bukan sekadar isu kelompok tertentu.
MCN NETWORK
